|
Muhammad Afifuddin Manusia pada umumnya menyadari bahwa dunia tidak kekal. Beberapa isyarat alam telah banyak menunjukkan betapa lama umurnya manusia di dunia, suatu saat ia akan dijemput ajal kematian. Betapa nikmat atau sengsaranya hidup di dunia semuanya akan berakhir di titik akhir tarikan nafas. Manusia ketika mau berfikir dan menyadari bahwa hidup tidak kekal tentu akan mengarah kepada sebuah pertanyaan,ada apa di balik hidup ini..? Hidup ini adalah misteri. Semuanya serba remang-remang dan gelap. Akan dibawa kemana kita oleh lorong waktu yang panjang, semua pada geleng kepala. Semua kepala yang masih berfungsi, sebenarnya punya kewajiban menelusuri misteri ini. Tidak boleh hanya hanyut oleh arus waktu yang terus berlalu. Namun mereka tidak dituntut harus benar dalam teka teki misteri ini. Karena Nabi Ibrahim pun sebelum diangkat jadi Nabi, juga tidak luput dari salah, ketika pertama kali memecahkan misteri siapakah pencipta alam ini? Misteri awal yang harus kita pecahkan ialah, dari mana kita sehingga menjadi ada..? Orang menjawab, kamu ada karena ada yang melahirankanmu. Lalu dari mana kamu percaya, bahwa kamu dilahirkan oleh seseorang..?orang menjawab, ya dikasih tahu sama orang yang melahirkanmu atau orang di sekeliling kamu. Kalau orang mendasarkan semua yang terjadi pada alam semesta ini hanya pada kekuatan logika otak, pasti tidak akan percaya. Karena ia tidak bisa melihat sendiri, bagaimana proses ketika dia dilahirkan oleh orang yang melahirkannya. Sekarang kamu percaya kepada orang yang memberitahumu atau tidak itu adalah urusan anda. Yang penting anda sekarang sudah wujud, entah bagaimana caranya, namun begitu, kamu tidak bisa mengelak untuk tidak mempercainya, karena berita tersebut sesuai dengan insting manusia kita. Semuanya namanya bentuk berita punya dua mata padang, antara salah dan benar. Kendatipun saat ini ada peralatan kedokteran canggih yang bisa mendeteksi bentuk gen seseorang dan mengatakan kamu anaknya pak Dullah, namun itu tidak sampai pada taraf 100% yakin dan benar. Untuk sementara kita dapat titik terang pada misteri pertama. Kita percaya kepada adanya hal yang tidak bisa dijangkau oleh logika dengan sumber dari berita. Dalam Islam misteri ini dinamakan hal yang ghaib. Misteri yang kedua untuk apa kita dilahirkan atau diciptakan..? adakah orang yang melahirkan kita tanpa punya tujuan..? orang yang punya logika sehat sulit menjawab, iya. Walaupun disana ada orang lahir karena "kecelakaan" alias tidak diinginkan. Tapi survey membuktikan banyak orang tua mengeluh karena tidak punya keturunan. Kalau orang sadar bahwa di dalam dirinya ada sebuah target dibalik perwujudannya, ia tentu punya tanggung jawab moral untuk menjalankan tujuan orang yang melahirkanya, walaupun ia lahir bukan atas kemauannya sendiri. Begitu juga, penciptaan alam langit dan bumi beserta ini semuanya pasti ada penciptanya dan ada tujuannya. Kalau orang mengingkari adanya sang Pencipta, sama saja ia memaksakan diri untuk melihat secara langsung proses kelahiran dirinya. Dan ini adalah hal yang tidak mungkin alias mustahil, karena akal pada waktu itu masih lemah dan tidak bisa menjangkau. Dan ini pula yang terjadi pada Nabi Musa, ketika beliau dihinggapi misteri keraguan tentang adanya Allah, Tuhan semesta Alam. Untuk itu ia memohon kepada Allah untuk diperlihatkan wujudnya agar hatinya menjadi tenang. Tapi Allah menjawab, kamu tidak akan mampu melihat diri saya.Lalu siapakah sang Pencipta itu dan apa tujuanNya menciptakan alam semesta ini..? jawabnya kita kembali kepada misteri pertama tentang ketidakberdayaan akal dalam melihat sesuatu yang di luar jangkauanya dan dipaksa untuk percaya kepada suatu berita yang tidak bisa dijangkau dengan logika. Kita mendapat berita dari Nabi dan Ulama (sebagai pewarisnya), bahwa Dzat yang menciptakan alam semesta ini bernama Allah dan manusia diciptakan untuk menyembah kepadaNya dan alam semesta diciptakan untuk kebutuhan manusia dan dapat mengambil hikmah dari penciptaan dirinya dan alam semesta. Berita adanya Allah, sang Pencipta alam yang disampaikan kepada kita lewat Ulama atau ayat-ayat Islam(al-Qur’an) ini adalah murni berita dan tidak bisa dibuktikan oleh logika akal manusia secara kongkrit. Tapi berita ini diakui oleh insting(fitrah) manusia, entah diakui atau tidak. Namun begitu, manusia juga punya insting tidak suka dipaksa. Kendati Allah telah megucapkan firmanNya bahwa: "tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku". Tapi sungguhpun demikian, Allah memberikan kebebasan seluasnya kepada manusia, antara taat dengan perintahNya atau melanggar laranganNya. Karena taat dan maksiyat tidak akan menambah atau menggeser kekuasaanNya. Karena Ia maha suci butuh kepada mahluk, justru mahluklah butuh kepadanNya, karena semua amal perbuatan akan kembali kepada pelakunya, baik yang baik maupun yang buruk. Sekarang persoalannya kembali kepada kita. Ketika kita telah mempercayai adanya sang Pencipta alam dan ia menjanjikan orang yang taat kepadanNya, sebuah sorga yang dibawahnya mengalir air jernih dan mengancam orang yang durhaka, dengan api neraka yang menyala-nyala, dan disana ada hari kebangkitan dan hari pembalasan amal setelah kematian panjang, apakah kita akan tetap diam terpaku dengan berita ini..? dengan alasan berita yang berisi janji atau ancaman ini tidak bisa dibuktikan secara kongkrit. Kalau anda masih ragu-ragu dengan berita ini, berarti anda tidak jauh berbeda dengan orang-orang ingkar yang minta bukti kasat mata tentang kebenaran berita ini. Karena akal tidak punya wilayah dalam berita ini. Dan Inilah salah satu misteri alam ghaib Islam yang selamanya tidak bisa diungkap dengan logika berfikir. Ia hanya bisa diungkap dengan logika iman di dada bukan di otak kepala. Kalau kita mau buka kembali ayat-ayat pertama surat al-Baqarah, kita akan menemukan karakteristik orang bertaqwa kepada Allah, adalah orang yang beriman kepada hal yang ghaib(misteri), lalu ia mau mendirikan sholat dan mau memberikan sedikit sedekah dari rezeki yang mereka peroleh, sebagai pengejawentahan dari makna beriman kepada hal yang ghaib. Dari sini kita bisa mengambil titik poin, bahwa orang beriman tidak hanya cukup diucapkan oleh lidah tapi perlu pembuktian di lapangan. Untuk itu Allah memberikan cobaan kepada hambanya, untuk mengetahui mana hambaNya yang betul-betul beriman dan yang hanya manis di bibir. Diantara cobaan yang paling berat adalah menjalankan sholat. Karena Allah telah memberikan pengakuan sendiri dalam salah satu ayatnya yang berbunyi: "Sesungguhnya sholat adalah sangat berat (untuk dijalankan) kecuali hanya orang-orang yang dikaruniai khusu’(tenang dalam sholat). Oleh karena itu Allah dalam sebuah makna sebuah hadist, telah menjanjikan hambanya yang mampu merawat sholatnya dengan baik, akan langsung dapat tiket masuk surga, tapi kalau tidak, maka akan dihentikan dulu untuk diperiksa seluruh amalnya. Dan kalau sudah begini kasusnya, jarang orang bisa selamat dari pemeriksaan amal. Karena semua anggota badan manusia ikut angkat bicara sebagai saksi atas mereka. Sebagai orang yang diberikan akal, tentu akan berhitung dengan keuntungan amal yang ada jaminannya. Dan amal itu adalah bernama sholat. Karena sholat adalah barometer keimanan seseorang. Apabila sholat kita telah mencapai tingkatan khusu’ tentu akan berpengaruh banyak terhapad kepribadian kita. Karena kita akan dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Namun sekarang ada pertanyaan muncul yang mungkin agak kontras. Ada orang yang rajin sholat tapi maksiyatnya juga jalan juga. Melihat fenomena seperti ini, banyak orang terpedaya dengan profil orang seperti ini. Di sana ada banyak faktor yang melatarbelakangi.Tapi yang paling pokok dan perlu digarisbawahi adalah, manusia selama masih hidup tidak bisa lepas dari namanya dosa, kendati ia berilmu tinggi atau telah banyak melakukan ibadah tetap tidak lepas dari melakukan dosa, selain dari karekteristik manusia sendiri tempatnya salah, juga karena ia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya dan sudah pasti sedikit atau banyak ada friksi timbul. Untuk itu, profil orang seperti ini jangan dibuat ukuran untuk tidak melakukan sholat, dengan alasan tidak jauh beda dengan orang yang tidak menjalankan sholat. Selain itu Allah juga telah memberikan pernyataannya di awal, bahwa sholat itu adalah berat. Artinya tidak semua orang bisa melewatinya dengan mudah. Karena disana banyak faktor yang harus dilewati untuk mencapai tingkatan khusu’. Diantaranya makanan yang dikomsumsi harus jelas statusnya alias halal, pakaianya harus terhindar dari najis, tahu teori dan etika sholat, dll. Kendati demikian, iman pembuktian seseorang tidak hanya berhenti di sholat. Tapi dibuktikan juga di arena dunia sosial. Iman seseoranglah belumlah cukup kalau ia belum terjun ke dunia nyata. Untuk itu Allah juga mengkritik orang yang hanya sibuk dengan sholatnya tapi lalai dengan dunia sekitarnya. Dan Allah tidak segan-segan memberikan label pendusta agama, apabila ia tidak mempunyai kepekaan sosial dan apriori dengan orang miskin dan yatim seperti halnya contoh dalam surat al-Maun,juz 30. Jadi pokok dari pada iman adalah mempercai kepada hal yang ghaib yang dibuktikan dengan amal perbuatannya, baik yang vertikal, yang dilakukannya dalam bentuk personal dengan Tuhannya, maupun secara horisontal yang terimplementasi dalam interaksi sosial dan kepekaannya dengan problematika masyarakat. Allahumma inni qod ballaghtu, Fash’had.
|