|
Ketika hari menjadi malam dan tanpa hantaran pelita. Ia duduk sendirian di beranda tua. Lalu dengan pena di tangannya tersusunlah kata meminta, yang ia letakan diantara lembaran kata dan angka. "Ya sekitar 650 tahun yang lalu, mereka masih percaya dengan tahayul. Kolera dan cacar mereka yakini sebagai kutukan dari orang Yahudi. 25 juta orang mati oleh maut hitam ini." Penasaran ia dibuatnya, sedikit kernyitkan kening lalu sodorkan satu kata. "Nasib mereka! Dibantai habis dan diusir dari sebagian dataran Eropa." Malam semakin hening, kerikan jangkrik pun menghilang entah kemana. Ia amati sejenak gerak golek dengan sendirinya, pun goresan angka dan kata tak luput ia pandangi. "hmm berarti sekitar abad ke-14" gumamnya dalam hati. Lalu ia kembali sodorkan kata. "Itu hanya isu, Yahudilah kambing hitamnya. Wabahnya dikira ramuan dari daging kadal dan hati orang-orang Nasrani." Ia semakin tertarik, walau kudunya berglidik. Golek itu bergemetrak kembali, kini geraknya makin kencang isyaratkan akan pinta. Dan ia paham, lalu kopi dan pena ia berikan. "hmm rupanya mereka masih kerdil." Sejenak kemudian sunyi, gemetrak golekpun tak berbunyi. Lalu dengan sedikit keberanian ia sodorkan kata. "Para petinggi gereja dan Raja menyatakan itu semua tak berdasar, tapi tetap saja Yahudi dibumi hanguskan, bahkan mereka membakar diri di Sinagog." Kali ini ia mendesah, heran akan mereka. Dan ternyata kekerdilan bukan milik sebagian orang, tapi kebanyakan. Mereka bukannya mencari pemecahan, malahan mengkambing hitamkan. Terlepas benar atau salah, itulah kekerdilan. Namun dalam pandangnya nun jauh disana ada pemecahan. Pun golek menggoreskan kata akannya "Tepat sekali, awal abad ke-7 hijriah ada obatnya, dan hanya ada di semenanjung selatan Eropa." Tepat dugaannya, mereka teramat kerdil dan masih mencari-cari. Wajarlah kalau hati mati maka ego kan mencari. Dan sudah pasti akan serampangan. Meskipun di abad ke-3 sebelum Masehi, salah satu murid Democritus telah menyandang gelar "Ibnu al-Tib" maka itu semua tidak menjamin masa dan pengikutnya bangkit. Kini Ia diam sejenak. Sembari selimuti diri di gelapnya gulita, Ia pun coba menerka dari goresan kata didepannya. "Padahal mereka sudah tahu, kenapa masih beradu? Gerangan apa penghalangnya?" ujarnya. Lama Ia memutar otaknya, dan mencoba kerucutkan masalah di benaknya. Lalu tanpa berujar, Ia kembali sodorkan kata. "Ya. Memang tidak tepat kebijakan Ferdinand mengusir Yahudi dari negrinya. Tapi, lebih tidak tepat lagi kebijakan Sultan Bajazet II yang menampung Yahudi di negrinya. Walaupun perokonomian dan budaya negrinya menjadi pesat." Kenapa tidak tepat, apakah karena Yahudi berwatak seperti apa yang digariskan Tuhan? Apakah karena kerusakan yang mereka ciptakan? Ataukah hanya tidak tepat saja?..."YA" gores golek itu menggebrak. "Mereka adalah buah karya dari hancurnya peradaban, bukan Tuhan kita saja yang berkisah demikian, tapi semua tuhan pun demikian. Dan tiadalah kebenaran diantara Yahudi dan Nasrani, walau disatu sisi mereka saling mencaci." Tersentak ia dibuatnya, pun tubuhnya bergetar. Napasnya terengah-engah tak karuan, hingga takut bercampur akan keingin-tahuannya. Lalu dengan penuh keberanian Ia bertanya "Siapakah tuan ini?" Golek itu diam. Tak segorespun kata tertulis. Diam dan diam. "Siapakah tuan ini?" Lama Ia menunggu. Lalu Ia berucap disampingnya, sambil mendesah "Siapakah tuan ini?" "sreeeeeeeeet." "Aku hanya Jelangkung, dan bukan siapa-siapa" tulis golek itu. Namun di akhir kata tertanda : "Shohibu al-risalah fi al-tib, GRANADA, 7 H." Ba’da jum’at, 27-1-2006.
|