|
|
|
 |
|
 |
|
|
Dunia Ketiga dan Dunia International |
|
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Karena ia punya kebutuhan yang harus dipenuhi baik yang bersifat objectif maupun subjectif. Dan negara adalah representasi sekumpulan manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu yang mewadahi seluruh kepentingan bersama. Lalu bagaimanakah ketika sebuah negara mencapai nasional interesnya dalam tata pergaulan di dunia international? Berikut ini, bincang-bincang Kru Al-Nahdlah (afif,andi,muchlis) dengan Bapak Dr.Memed Gunawan, seorang representative FAO(food and agriculture organization) UN. Sosok yang langganan juara dari SD hingga SMA ini pernah magang di departemen pertanian sebagai sekjen setelah mengais ilmu di negeri Paman Sam Amerika selama enam tahun hingga mencapai doctor. Lelaki kelahiran Kuningan Cirebon ini juga punya hobby memasak dan pernah freelance sebagai tukang fhoto sewaktu masih kuliah S-1 di IPB bogor untuk biaya kuliahnya. Berikut petikan wawancara kami dengan beliau dengan inisial AN: Al-Nahdlah dan MG: Dr.Memed Gunawan. AN: Apa komentar bapak tentang imej para pelajar Indonesia yang sudah sukses belajar di luar negeri tapi tidak mau pulang lagi ke negerinya? ? MG: saya kira ikatan kebangsaan/emosional orang Indonesia di luar negeri masih cukup tinggi dengan tanah airnya, kalo kita bandingkan dengan orang India, Pakistan, Bangladesh, Fhilipina. Yah hampir 99% balik ke Indonesia, kecuali orang yang keturunan china. Karena tidak gampang mendapatkan ladang usaha di luar negeri. Apalagi para pelajar yang belajar tentang agama, keculi para pelajar yang belajar di bidang umum, karena mereka bisa bekerja di bidang manajemen, computer dan lain-lain. Tapi kalo keagamaan itu sangat terbatas, seperti halnya pusat studi Islam di Chicago, : saya kira ikatan kebangsaan/emosional orang Indonesia di luar negeri masih cukup tinggi dengan tanah airnya, kalo kita bandingkan dengan orang India, Pakistan, Bangladesh, Fhilipina. Yah hampir 99% balik ke Indonesia, kecuali orang yang keturunan china. Karena tidak gampang mendapatkan ladang usaha di luar negeri. Apalagi para pelajar yang belajar tentang agama, keculi para pelajar yang belajar di bidang umum, karena mereka bisa bekerja di bidang manajemen, computer dan lain-lain. Tapi kalo keagamaan itu sangat terbatas, seperti halnya pusat studi Islam di Chicago, AN: Apa kendala utama para jebolan pelajar Indonesia luar negeri kurang bisa menunjukkan prestasinya dengan para pelajar luar negeri lainya..? MG: Rata-rata orang Indonesia kurang berani bersaing karena saya juga melihat rata-rata pelajar Indonesia di luar negeri bergaulnya dengan orang Indonesia lagi., sehingga wawasan pergaulan internationalnya itu agak kurang dibanding dengan orang Philippine, Pakistan India. Orang Indonesia dimana pun berada, bahasa inggrisnya kalah dengan orang Malaysia, India, Pakistan. akhirnya kalo diajak berdebat walau di kepala banyak jawaban tapi mulut susah mengutarakanya. : Rata-rata orang Indonesia kurang berani bersaing karena saya juga melihat rata-rata pelajar Indonesia di luar negeri bergaulnya dengan orang Indonesia lagi., sehingga wawasan pergaulan internationalnya itu agak kurang dibanding dengan orang Philippine, Pakistan India. Orang Indonesia dimana pun berada, bahasa inggrisnya kalah dengan orang Malaysia, India, Pakistan. akhirnya kalo diajak berdebat walau di kepala banyak jawaban tapi mulut susah mengutarakanya. AN: Pandangan bapak dengan fenomena westernisasi para jebolan luar negeri Indonesia? MG: Yah..tampaknya demikian..mereka membawa budaya kurang baiknya bukannya meniru semangat kerja mereka yang tinggi, disiplinnya, ketepatan waktu yang tinggi scedulingnya, planning mereka, ditambah lagi di kita itu sudah umum dengan ‘jam karet’. AN: Menurut pandangan bapak Asep Heryana ,kemampuan orang Indonesia sebenarnya cukup diakui oleh dunia luar,pandangan bapak kenapa hingga sampai saat ini Indonesia masih tertinggal dengan Negara-negara lain? MG: Yah, dalam segi kemampuan kita sebenarnya tidak kalah, buktinya kalau kita sedang terpepet, terkadang muncul ide-ide briliyan, seperti halnya adik mahasiswa sendiri. Ketika masih kuliah tenang-tenag aja, tapi kalo sudah mau waktunya ujian,baru kita belajar dengan keras. Tapi saya melihat ada factor rendah diri yang sangat berlebihan, memandang orang lain terlalu hebat sehingga kadang-kadang kita susah masuk dalam pergaulan dunia, karena kita sudah merasa rendah diri. Disamping itu pendidikan kita tidak diajarkan untuk berani berbeda dan percaya diri dan terkesan hanya mengikuti apa kata guru dan kita kalah di bidang ini. Yah, dalam segi kemampuan kita sebenarnya tidak kalah, buktinya kalau kita sedang terpepet, terkadang muncul ide-ide briliyan, seperti halnya adik mahasiswa sendiri. Ketika masih kuliah tenang-tenag aja, tapi kalo sudah mau waktunya ujian,baru kita belajar dengan keras. Tapi saya melihat ada factor rendah diri yang sangat berlebihan, memandang orang lain terlalu hebat sehingga kadang-kadang kita susah masuk dalam pergaulan dunia, karena kita sudah merasa rendah diri. Disamping itu pendidikan kita tidak diajarkan untuk berani berbeda dan percaya diri dan terkesan hanya mengikuti apa kata guru dan kita kalah di bidang ini. AN: Ide bapak untuk merubah pola pikir yang terkesan harus membabi-buta ini? MG: Kita sadari bahwa kita hidup ditengah dunia international dan kita tidak bisa mempertahankan pola pikir yang seperti ini, kita harus keluar,kita harus bisa melihat hal yang berbeda di luar. : Kita sadari bahwa kita hidup ditengah dunia international dan kita tidak bisa mempertahankan pola pikir yang seperti ini, kita harus keluar,kita harus bisa melihat hal yang berbeda di luar. AN: Sebagai representasi orang Indonesia di FAO-UN, seberapa jauh Indonesia dapat mengambil manfaat dari organisasi UN? MG: Indonesia tampaknya belum bisa memanfaatkan organisasi international ini secara optimal karena kita tidak punya chanel dan dukungan di sana. Dan kita masih kalah di banding dengan Negara-negara lain seperti. Pakistan, India, Bangladesh,Afghanistan, Irak. Mereka mudah mengajukan suatu proyek atau bantuan karena mereka punya banyak perwakilan di FAO. AN: Kiprah UN dalam melindungi Negara-negara ketiga seperti Afghanistan, Irak, Iran dan lainnya dari tekanan-tekanan Negara maju seperti Amerika? MG: Saya tidak tahu itu, karena ini adalah wilayah politik, tapi di dalam UN ada bloc-bloc negara yang mempunyai kepentingan sama seperti Amerika dengan Inggris atau Perancis atau Jerman dan lain sebagainya dan mereka mempunyai pemikiran yang sama sehingga dalam satu pemilihan di UN mereka akan satu suara, dan ini mungkin saja bisa terjadi. Dan karena ini merupakan kesepakatan bersama dari orang-orang yang kumpul dan dengan suara kuat dan kemudian muncul, ini juga bisa terjadi. Makanya negara-negara berkembang bersatu di dalam beberapa pemikiran-pemikiran tertentu, misalnya dalam hal memberantas kemiskinan mereka mempunyai kesepakatan bersama tentang konsep dan kriteria perlindungan. : Saya tidak tahu itu, karena ini adalah wilayah politik, tapi di dalam UN ada bloc-bloc negara yang mempunyai kepentingan sama seperti Amerika dengan Inggris atau Perancis atau Jerman dan lain sebagainya dan mereka mempunyai pemikiran yang sama sehingga dalam satu pemilihan di UN mereka akan satu suara, dan ini mungkin saja bisa terjadi. Dan karena ini merupakan kesepakatan bersama dari orang-orang yang kumpul dan dengan suara kuat dan kemudian muncul, ini juga bisa terjadi. Makanya negara-negara berkembang bersatu di dalam beberapa pemikiran-pemikiran tertentu, misalnya dalam hal memberantas kemiskinan mereka mempunyai kesepakatan bersama tentang konsep dan kriteria perlindungan. AN: Bagaimana sikap Indonesia terhadap kepentingan Amerika kepada negara seperti Afghanistan atau Irak? MG: Saya kira itu tergantung pemerintah, contoh ada kasus Iran, itu kepentinganya tidak diwakili oleh orang seperti saya. Karena saya tidak ada urusannya dengan politik. : Saya kira itu tergantung pemerintah, contoh ada kasus Iran, itu kepentinganya tidak diwakili oleh orang seperti saya. Karena saya tidak ada urusannya dengan politik. AN: Tugas bapak di Pakistan dengan kapasitasnya sebagai orang FAO? MG: Saya diminta membantu negara Pakistan untuk mengembangkan pertanian yang diatur menurut aturan-aturan yang ada di FAO dan terlepas dari urusan politik. : Saya diminta membantu negara Pakistan untuk mengembangkan pertanian yang diatur menurut aturan-aturan yang ada di FAO dan terlepas dari urusan politik. AN: Bagaimana bapak melihat pertanian di Pakistan? MG: Pertanian di Pakistan cukup bagus. Di sini kasus-kasus yang ada di kita seperti seperti pupuk palsu, benih palsu itu tidak ada disini. Dan bibit-bibit itu boleh dibilang murah. Daerahnya cocok untuk buah-buahan dan sayuran tapi untuk daerah-daerah tertentu yang bagus. Dan yang belum berkembang adalah masalah prosesing dan penjualannya. Jadi hampir mirip dengan kita, petani banyak dirugikan karena hasil penjualannya melalui middle-man(tengkulak). : Pertanian di Pakistan cukup bagus. Di sini kasus-kasus yang ada di kita seperti seperti pupuk palsu, benih palsu itu tidak ada disini. Dan bibit-bibit itu boleh dibilang murah. Daerahnya cocok untuk buah-buahan dan sayuran tapi untuk daerah-daerah tertentu yang bagus. Dan yang belum berkembang adalah masalah prosesing dan penjualannya. Jadi hampir mirip dengan kita, petani banyak dirugikan karena hasil penjualannya melalui middle-man(tengkulak). AN: Pesan bapak untuk pelajar Indonesia di luar negeri? MG: Bergaullah dengan orang luar(asing), jangan ngumpul aja diantara kita saja. Namun begitu ada batas-batasnya kita teguh dengan pendirian kita. Pokoknya selamatlah dan jangan merasa kecil hati. Rendah hati boleh tapi rendah diri jangan. Kita harus tetap merasa sejajar dengan orang lain. Tidak ada yang perlu kita takuti kecuali yang di Atas. [af] : Bergaullah dengan orang luar(asing), jangan ngumpul aja diantara kita saja. Namun begitu ada batas-batasnya kita teguh dengan pendirian kita. Pokoknya selamatlah dan jangan merasa kecil hati. Rendah hati boleh tapi rendah diri jangan. Kita harus tetap merasa sejajar dengan orang lain. Tidak ada yang perlu kita takuti kecuali yang di Atas. [af]
|
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|