|
Pahlawan Sejatiku Oleh : Jaya Rukmana* Rina Abdullah Rainy Pasteur, 15 Agustus 1998 “Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat dan kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan dosa dan kesalahan. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung. Karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama….”(Anis Matta). Ya Rabb Bimbinglah aku…Aku ingin menjadi pahlawan kesenian dan pahlawan pendidikan…..Amien. Perlahan kututup kembali diary kakakku.”Ya…Dialah salah satu pahlawan sejatiku” batinku lirih.Itulah salah satu kenang-kenangan terindah dari kakakku tercinta. Hampir delapan tahun sudah kakakku mendahuluiku. Dia adalah sosok inspirator bagiku. Apalagi sekarang aku berada jauh di negeri orang, tepatnya Islamabad – Pakistan. aku bertekad untuk serius belajar agar berhasil dalam amanahku dan aku tidak mau mengecewakan orang tua kakakku. Dan sekarang sejatinya, akulah ‘bunga mawar’ pengganti sekaligus penerus generasi dari keluarga Bpk.Abdullah Rainy di kota Bandung. Ku rebahkan diriku di atas kasur busa yang masih menguap akibat cuaca yang panas hari ini. Sekarang adalah tahun keduaku di Islamabad. Aku sudah duduk di semester 4 di fakultas Ekonomi. Walaupun cuaca yang kurang bersahabat, namun di bulan summer ini, aku sibuk dengan summer course-ku. Akupun ikut sesekali beraktivitas di diskusi Forum Study Kebangsaan, juga di diskusi yang diadakan oleh teman-teman dari Partai Keadilan Sejahtera, bahkan aku pun juga aktif di pelatihan angklung yang diadakan KBRI Islamabad. Kulihat jam telah menunjukan pukul 24.30 malam. Aku pun merebahkan diri. …perlahan jiwaku melayang, ruhku mengembara jauh ke beberapa tahun silam…. *********************************************************** “Indonesia tanah air beta…abadi pusaka nan jaya…” Kak Rina berkali kali melantunkan lagu itu di telingaku. Kadang aku juga merasa bosan mendengarnya. Walau jujur kuakui bahwa suaranya yang lembut, sering membutku terlena dan akhirnya aku pun terlelap tidur nyenyak di pangkuannya. Aku tahu dan sadar, bahwa kak Rina senantiasa mengalunkan lagu itu, dikarenakan saat ini menjelang peringatan hari kemerdekaan RI. Lagu itu adalah termasuk lagu andalan grup sanggar musik angklung anak jalanan yang akan di pentaskan pada malam gembira tanggal 17 agustus nanti. Kak Rina bukanlah kakak kandungku. Tapi Ia adalah sosok ibu kedua bagi kami, yang mayoritas anak-anak jalanan di daerah Pasteur Bandung. Dia adalah pengurus sanggar seni angklung anak bangsa sekaligus pelatihnya. Setahuku juga, kak Rina mahasisiwi di Universitas Pendidikan, Fakultas Sastra dan Seni. Tapi yang lebih membuatku kagum dan bangga kepadanya adalah ketidakbosanan dia untuk mengajari kami membaca, menulis dan mengaji Al-Qur’an. Karena hampir dalam seminggu tiga kali, ia datang ketempat kami untuk mengajari kami. “ Kak…kenapa sih kakak memilih belajar sastra dan seni?” tanyaku, di sela-sela pelajaran sore itu. “Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut menjadi seorang pemberani…inilah nasehat yang sering diungkapkan oleh sahabat Rasullulah, sayyidina Umar bin Khattab kepada para sahabatnya..” jawab kak Rina dengan lugas. “ Trus ..hubungnnya dengan keberanian apa kak? Apakah kami ini termasuk orang-orang yang pengecut ya kak..?” tambahku bertubi-tubi. Memang aku terkenal anak yang paling bawel dan cerewet, juga paling banyak tanya saat pelajaran berlangsung ataupun saat latihan angklung. “ Bukan begitu adek-adek sekalian…tapi seorang seniman atau sastrawan akan di tuntut untuk lebih berani berbuat dan tampil, hatinya bisa lebih peka terhadap gejala sosial yang ada di sekelilingnya. Ibaratnya dia adalah seorang pahlawan kemerdekaan saat ini…dan kakak nggak bilang bahwa kalian itu pengecut, tapi harapan kakak adalah kalian harus berani tampil dan berbuat untuk kepentingan orang banyak, bukan sebaliknya atau bahkan menjadi beban masyarakat.” Jelasnya seraya mengulum senyum khasnya yang renyah. Aku tidak menyangka bahwa pertemuan sore itu dan kebersamaanku dengannya di malam hari, menjadi moment pertemuan terakhir kami dengannya, dan yang lebih tragis adalah menjelang hari penampilan sanggar musik angklung anak bangsa di hari kemerdekaan tahun ini. “ kakak …tidur dengan kami kan malam ini..?” tanyaku. Kak Rina hanya tersenyum dan mengangguk. Matanya yang indah tampak terang, seakan aku melihat bintang di dalamnya. “ Kita tidur di sini supaya melihat bulan dan bintang ….mereka semuanya tak bosan untuk menerangi pekatnya malam, begitupun kita… jangan bosan untuk berbuat kebaikan di dunia ini”.tambahnya seraya merebahkan diri di atas hamparan potongan kardus. Malam itu begitu hening dan syahdu, walaupun di sana-sini nampak cahaya yang terang benderang dari lampu jalanan dan rumah-rumah sekitar serta toko-toko. Bahkan bendera merah putih dan hiasaan kertas warna warni pun tampak rame hampir di setiap gang jalanan. Sesekali terdengar bunyi petasan (mercon) yang memekakan telinga bersahutan dengan teriakan orang-orang yang meluapkan kegembiraan. Suasana seperti ini, kata kak Rina , hampir terjadi di seluruh pelosok negeri ini, yaitu menjelang hari kemerdekaan. Mungkin inilah sebagai wujud mengenang kegembiraan para pendahulu kita di awal kemerdekaan. “ Huaammmmm..” geliatku sambil menutup mulut dengan tangan mungilku. Belum lagi aku terbuai tidur…tiba tiba…suara ribut-ribut terdengar dari arah rumah gubukku di bawah jembatan. Nampak serombongan orang turun dari mobil petugas keamanan kota. Aku dan kak Rina pun tersentak kaget dan langsung menuju rumah reyotku. “ kakak…mereka tuh…mau merusak rumah dan mau membawa kita ke kantor..” teriak yanti sambil menubruk tubuh kak Rina. “maaf…. ada apa ini bapak-bapak…?” tanya kak Rina, sambil mengelus ngelus rambut yanti yang nampak ketakutan. “ anda siapa ? apa pemilik gubuk-gubuk ini..?” tanyanya berang, tak nampak secuilpun nada kompromi di raut wajahnya. “ mereka adalah teman dan adek-adek kecilku. Dan inilah rumah sementara mereka selama ini…” jawab kak Rina sedikit tenang. “ Ok kebetulan…kalau begitu. Sekarang coba bereskan barang barang kalian dan ikut ke kantor kami…karena rumah kalian akan kami bersihkan, sebab besok pagi bapak gubernur dan rombongan akan melewati jalan ini….” Balasnya seraya memberi isyarat ke teman-temannya untuk segera membersihkan tempat itu. Aku pun bergerak cepat berusaha untuk menghalangi para petugas yang akan merobohkan gubuk kami. Bahkan akupun berhasil menggigit dengan keras salah satu tangan dari petugas itu… “aaaaaaaaaahkk…dasar anak gila..!” teriaknya kesakitan. Dan tiba-tiba tangan kekarnya melayang mau mendorongku. Belum juga tangannya mengenaiku…kak Rina sudah mendekapku, akhirnya akupun terjerembab bareng kak Rina…sesaat kemudian ekor mataku melihat orang tadi mendekatiku, tapi aku pun dengan cepat berdiri dan lari di bawah kesadaranku menuju jalan seberang. “ awaaaaaaaaaaaaaaas raniiiiiiii….mobil..” terdengar lapat-lapat suara kak Rina berteriak sambil berdiri mengejarku yang ketakutan….. “ buuuugkh….braaaaak…” terdenagr suara di belakangku. Aku tertegun sesaat. Tampak tubuh kak rina terhempas jauh tertubruk mobil yang melaju kencang dan bahkan terus kabur tak berhenti menembus angin malam. “ kak…kakak….!” Aku menatap wajahnya yang berlumuran darah dan mengoyang-goyangkan tubuhnya. Aku berharap mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi tidak,… mata itu tetap terkatup rapat….aku pun menangis, badanku limbung kedalam dekapannya…. “ Ranii…Ranii..bangun giih…udah subuh nih..!” suara khas Nurul, teman sekamarku mengusikku. Setengah sadar aku mendengar lapat-lapat suara adzan shubuh dan suara orang memanggilku …sesaat aku terdiam, kemudian aku pun menyadari bahwa tadi aku lelap dalam alam mimpiku…Ya Rabb ..ajari hamba untuk senantiasa mengabdi kepada-Mu…amien. *Cerpenis Islamabad
|