|
Tipe-Tipe Manusia Dalam Mengabdi Kepada Tuhan Oleh : M.Nurkholiq Al-Mansury* Menurut sebagian para Ulama, terdapat 3 tipe manusia dalam beribadah (taat melaksanankan perintah-Nya). Ketiga tipe ini sama-sama lillahi ta’ala, hanya ‘penghayatannya’ yang berbeda. Inilah yang membedakan ‘kualitasnya’. Tipe pertama, adalah tipe ‘pedagang’, yaitu melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang taat kepada Allah karena mengharapkan di akhirat kelak akan di masukan ke dalam surga. Tipe kedua, adalah tipe ‘budak’ yang takut kepada majikannya. Ia taat kepada Allah karena dorongan takut siksa neraka. Tipe ketiga, adalah tipe ‘orang arif’, yaitu orang yang beribadah bukan karena mengharapkan imbalan surgawi dan juga bukan karena takut neraka, melainkan sebagai ‘balas jasa’ karena menyadari betapa besar anugrah Allah yang telah di terimanya. Ia tidak berani membangkang kepada Allah semata-mata karena rasa malu bahwa Tuhannya telah memberikan yang terbaik untuknya. Tidaklah pantas baginya membangkang pada perintah Allah yang telah memberinya anugrah yang tidak dapat di hitung banyaknya. Dengan demikian segala tindakannya semata-mata karena tidak ingin Tuhan ‘kecewa’ kepadanya. Melihat kenyataan yang sekarang, ada ulama atau pakar yang menambahkan satu tipe lagi, celakalah kita bila termasuk pada tipe ini. Tipe yang di maksud oleh pakar ini tipe yang bukan sebagaimana sang arif yang bersyukur, pedagang yang mengharap atau pun budak yang takut, ia adalah tipe ‘robot’ yang melakukan ibadah secara otomatis tanpa pemikiran dan penghayatan. Ia sehat namun yang terlihat adalah bisnis, kenikmatan duniawi atau bahkan benda-benda kecil yang tidak bernilai!.dengan alasan apa pun rasanya kita tidak dapat mengingkari kebenaran yang dilakukan oleh tipe ketiga. Lalu bagaimana halnya dengan sikap tipe pertama dan tipe kedua? Ternyata Al-qur’an pun membenarkan sikap demikian, sebagaimana firman Allah berikut : “ Hai orang –orang yang beriman, sukakah kamu (bila) aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari api neraka? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan (memasukan kamu) ketempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” Ash-Shaff :10-12. Salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yaitu Utsman bin Affan, yang kelak menjadi khalifah muslim ketiga, adalah seorang pedagang besar madinah. Suatu ketika madinah mengalami masa paceklik yang sangat parah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan banyak yang mati. Masyarakat madinah banyak yang mengalami kelaparan. Pada saat gawat itu, dating rombongan kafilah dari syam membawa barang dagangan yang sebagaian besar berupa makanan. Rupanya barang dagangan itu kepunyaan Utsman bin Affan. Para pedagang madinah berebutan ingin membelinya dengan maksud akan di jual kembali kepada masyarakat yang memang sangat membutuhkan dengan harga berlipat-lipat. Mereka menawar barang dagangan itu dengan harga 3 kali lipat dari harga pembeliannya. Tetapi tawaran yang menggiurkan itu di tolak oleh Utsman bin Affan, “Maafkan saya”, barang dagangan ini telah terjual dengan harga yang lebih besar dari itu!” tentu saja para pedagang ini keheranan, siapa yang berani membeli dengan harga tinggi itu. Mereka pun bertanya, “Wahai sahabat, siapakah orang-orang yang telah membeli barang-barang daganganmu dengan harga sangat tinggi itu?” Utsman pun menjawab dengan singkat, “Allah”!!. Dengan keheranan mereka balik bertanya, “Bagaimana caranya Allah memberikan keuntungan itu kepadamu?” jawab Utsman, “ Allah menjanjikan kepadaku keuntungan tidak kurang dari 700 kali lipat, tidakkah kalian ingat janji Allah itu dalam Al-qur’an?”. Lalu Utsman pun membacakan firman Allah berikut : “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, tidak ubahnya sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada masing-masing tangkai terdapat 100 butir biji”. Al- Baqarah : 261. Dengan rasa takjub, para pedagang itu bertanya, “apakah engkau akan sedekahkan dagangan yang sangat banyak ini?” Utsman pun menjawab, “Benar. Seluruhnya aku sedekahkan kepada masyarakat yang menderita karena paceklik yang parah ini!”. Kisah ini memberikan gambaran orang yang memiliki kepercayaan penuh pada janji Tuhannya. Ia amat yakin bahwa Tuhannyatidak akan ingkar janji. Apalagi janji itu tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang kali Dia sampaikan!. “Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (Rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu di kembalikan.” Al-Baqarah : 245 “Wahai manusia! Mengapa angan-anganmu masih juga membumbung tinggi, padahal Allah telah menjamin Rezekimu? Mengapa engkau masih kikir juga, padahal engkau tahu ganti itu dari Allah?” (Hadits Qudsi). Wallahu a’lam *Kader NU Asal Bandung
|