Halaman Depan
Berita
Profil
AD & ART
Forum Diskusi
Info Kuliah
Links
Kontak Kami
Email
Foto Gallery
Kegiatan
No Latest Events
Nahdlatul Ulama
Links
Berbagi Suami, Karena Agama atau Bakat???
Oleh : Ida Susilowati,S.Th.I

Pendahuluan

Memang, istilah Berbagi suami atau dengan bahasa lain Poligami saat ini menjadi bahan hangat untuk dijadikan bahan obrolan dari tingkat warung hingga ke layar lebar, dari kalangan wong cilik hingga ke kalangan pejabat dan kyai dan dari sekedar bahan gosip hingga menjadi bahan diskusi. Poligami dalam Islam sendiri merupakan suatu hal yang diperbolehkan dengan batasan 4 istri:

Namun ayat tersebut jangan sampai dipisahkan dengan kalimat selanjutnya yang mana pelegalan beristri 4 harus dengan syarat: selama dia (suami) dapat berlaku adil terhadap semua istri-istri nya:

Dalam diskusi kali ini, kita tidak perlu memperlebar masalah hukum Poligami, karena telah jelas bahwasanya Poligami itu diperbolehkan dalam Islam selama dia (suami) dapat melaksanakan syarat-syarat mutlak dalam berpoligami, dan persetujuan istri untuk suami berpoligami bukanlah syarat wajib yang harus dilaksanakan. Film yang diangkat oleh Nia Dinata lebih berusaha mengangkat bagaimana Poligami secara riil daripada Poligami secara tekstuil, yang mana dia berusaha untuk menggambarkan bahwasanya praktek Poligami merupakan hal yang tidak mudah bagi seorang suami dalam memikirkan 4 istri sekaligus (seperti yang digambarkan keluarga pertama: yang diperankan oleh El-Manik), berbeda halnya dengan keluarga kedua (kehidupan keluarga Paklik yang pas-pasan dengan 4 orang istri yang tinggal dalam satu atap rumah) meskipun diantara istri hidup rukun namun perlu digaris bawahi tentang bagaimana nasib anak-anak mereka dengan kondisi keluarga yang demikian, dan beberapa problematika yang dapat timbul karena istri yang seatap bahkan sekamar dengan istri-istri lain, dan yang terakhir yang sutradara gambarkan dalam keluarga ketiga (keluarga dengan garis keturunan Tionghoa penganut Katholik, yang mana tidak memperbolehkan perceraian) beristri diam-diam tanpa sepengetahuan sang istri, betapa sulitnya untuk menyembunyikan rasa khawatir dan takut jikalau suatu waktu sang istri pertama beserta anak-anaknya mengetahui keadaan yang sebenarnya, dan bagaimana derita seorang istri simpanan.

Dalam garis besar, Film ini bercerita tentang tiga wanita dari kebudayaan berbeda namun sama-sama mempunyai suami yang melakukan poligami. Dalam proses pembuatannya, film ini melalui proses observasi dan riset. Film ini adalah kisah poligami dari sudut pandang perempuan, yang diwakili oleh Nia Dinata sebagai sutradara.

Film Berbagi Suami terbagi dalam tiga segmen cerita yaitu cerita Salma, cerita Siti dan cerita Ming. Berbagi Suami adalah tuturan para perempuan yang menjalani kehidupan dipoligami dari kalangan usia, sosial dan etnis yang berbeda: Salma yang diperankan Jajang C Noer mewakili kalangan berpendidikan dengan strata sosial yang tinggi, berprofesi sebagai dokter, berlatar kultur Betawi di usia 50-an, bersuamikan pengusaha yang terjun ke dunia politik. Siti yang diperankan Shanty adalah perempuan dari pelosok Jawa, yang usianya mendekati 30-an; dan Ming yang diperankan Dominique, gadis keturunan Tionghoa yang berusia 19 tahun.

Tiga perempuan yang berasal dari tiga kelas sosial, ekonomi dan suku yang berbeda membuka tabir tentang kehidupan poligami mereka. Perempuan-perempuan ini mengalami kondisi yang mirip satu sama lain, tetapi dengan latar belakang pribadi dan karakter yang berbeda.

 
Background Sutradara

Sebelum menguraikan tentang film Berbagi Suami dan membahas lebih jauh, adalah suatu yang harus dipahami dari sutradara yang memiliki ide cerita untuk mengangkat film tersebut. Nia Dinata sang sutradara merupakan salah seorang yang kontra dengan Poligami, sehingga film yang tersaji seakan-akan ingin mengutarakan bahwa "Poligami itu Sulit, Poligami itu memiliki banyak hal negatif". Lewat Berbagi Suami, Nia seperti hendak menumpahkan ketidak-sepahamannya dengan poligami, hanya saja ia tak menghadirkannya dengan membabi-buta, tapi justru ada pencerahan di dalamnya. Penonton lah yang diberikan ruang untuk kontemplasi atas kisah yang disajikannya itu.

Dari film tersebut dapat ditinjau melalui beberapa segi ataupun status yang berbeda dalam mensikapi poligami yaitu status Ekonomi, status Sosial, status Pendidikan, Faktor Usia, Etnik dan Agama. Dan dampak yang perlu diperhatikan dalam berpoligami khususnya terhadap anak.

Keluarga Pertama

( Ditinjau dari Suami ) Dalam keluarga pertama ini, menyajikan sebuah keluarga mampu dari faktor ekonomi dan berpendidikan. Haji Imran adalah seorang pejabat yang terjun di dunia Politik beristrikan Salma seorang dokter yang memiliki anak semata wayang (Nadin). Ketika hubungan suami-istri mulai berada pada titik jenuh, sementara hasrat birahi membubung tinggi, maka bukan tak mungkin berpoligami menjadi pelarian. Terlebih, ketika hasrat itu ditunjang dengan uang yang berlebih. Maka dengan alih-alih "menghindari zina" Haji Imron berusaha untuk dapat mewujudkan hasratnya untuk menikah kembali, apalagi Islam, tak melarang seorang suami beristri lebih dari satu asalkan mampu berlaku adil.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa seorang Haji Imron pun belum berani berterus terang kepada istri pertamanya tentang istri mudanya, akhirnya harus mencari celah ketika perbuatannya diketahui oleh istri pertama, lagi-lagi laki-laki dengan dalihnya "Sebenarnya tanpa kamu tahu, akupun akan terus terang, tapi ketika kamu sudah siap". Kata-kata sudah siap merupakan salah satu jurus untuk berdalih kepada sang istri pertama untuk menutupi rasa malu ketika sang istri mengetahui yang sesungguhnya. Poligami, awalnya memang indah, tapi orang sehebat Haji Imron pun dibuat tak berdaya. Menjadi adil, ternyata pilihan yang sulit. Seadil-adilnya, Haji Imron tetaplah tak adil bagi istri-istrinya. Selalu ada perasaan diduakan dan rasa iri yang berkecamuk di hati para istrinya.    Satu babak telah disodorkan Nia. Di ujung cerita, pesan penting pun disampaikan Nia lewat Haji Imron. Ya, beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhirnya, kepada Nadin, Haji Imron berwasiat bahwa satu istri jauh lebih baik ketimbang banyak istri.

(Ditinjau dari sisi Istri Pertama) Salma, dokter kandungan berdarah Betawi, istri Haji Imron, awalnya memang tak sudi dimadu. Tapi lama kelamaan ia akhirnya bisa berdamai dengannya karena sikapnya yang lebih mementingkan kepentingan anak membuat dia harus berfikir jauh akan masa depan sang anak. Pilihan yang sulit, tapi harus diterimanya, yang akhirnya membuat ia harus berfikir bahwa "Ini sudah takdir,".Salma pada akhirnya merelakan membagi suaminya dengan perempuan lainnya, Indri yang kemudian dilanjutkan dengan hadirnya "pendatang baru" sebagai istri ketiga dan keempat. Hidup terasa tak nikmat jika dimadu, namun justru keberadaan seorang anak (Nadin) membuat ibu mampu bertahan untuk sang anak sehingga memiliki kekuatan untuk bertahan.

Pertanyaan Nadin kepada ibunya "Apa Umi sayang Abah" dapat disikapi dengan baik oleh Salma yang memang sudah cukup matang dari sisi usia, namun ketika pertanyaan berupa "Apa Abah sayang Umi?" membuat seorang istri berfikir ulang tentang ukuran cinta sang suami.Ukuran cinta seorang wanita memang tidak bisa bertitik tolak apakah suaminya setia kepadanya dengan tidak kawin lagi. Prinsip ini yang mau tidak mau (terpaksa) dipegang Salma, ketika tahu suaminya berpoligami.

Tidak lupa babak yang dihadirkan ketika Abah harus dirawat di Rumah Sakit, menggambarkan persaingan antara istri yang tak dapat dihindarkan, yang mana masing-masing merasa memiliki. Dan tak dapat dielak, karirnya sebagai seorang dokter tak dapat menjadi penunjang suaminya untuk tidak menikah lagi.

Beberapa Kesimpulan:

(Agama dan Ekonomi) Dari cerita keluarga pertama lebih menitik beratkan pada sulitnya bersikap adil. Yang mana ternyata, harta yang berlebih bukanlah salah satu penunjang akan mampunya untuk bersikap adil, karena adil bukan hanya dalam pembagian harta namun juga terhadap hak pembagian waktu, hati, dan perasaan. Yang pada akhirnya dapat menciptakan persaingan antar istri yang masing-masing merasa lebih memiliki atau dalam kata lain Harta bukanlah jaminan untuk dapat berlaku adil.

(Psychology anak) Dari sisi lain, perlu dipahami bahwa poligami memiliki dampak phsycology terhadap anak, Nadin contohnya yang terdidik dalam keluarga poligami disertai beberapa kebohongan yang tak dapat dihindarkan ketika harus dihadapkan dengan public, membuat dia justru menolak poligami dan hanya dapat tersenyum pahit melihat kenyataan yang ada.

(Status Sosial) Posisi individu di masyarakat pun tak dapat dilupakan, ketika seorang pejabat (orang yang memiliki kedudukan di mata masyarakat) ingin menikah kembali. Perasaan malu jika dikateahui khalayak umum dan pandangan masyarakat yang jelas akan berubah karena keputusannya untuk poligami membuat dia harus diam-diam menyimpan rahasia dan terkadang harus berbohong untuk kepentingannya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa status individu memang membuat seorang laki-laki harus berfikir lebih jauh sebelum menentukan langkah kedepan.

Keluarga Kedua

Babak kedua lalu beralih kepada Siti, gadis Jawa yang mencoba peruntungan ke Jakarta. Adalah Pak Lik, yang mengajaknya ke Jakarta. Di rumahnya lah ia bakal menetap bersama dua istrinya Dwi dan Sri.Sial memang, niat bekerja di Jakarta, eh Siti malah dinikahi Pak Lik untuk menjadi istri ketiga.Lain Salma, lain pula Siti. Ia justru diterima dengan tangan terbuka oleh istri-istri terdahulu Pak Lik. Tak ada cek-cok di antara mereka. Malah saling dukung di antara ketiganya. Mereka hidup akur meski harus tinggal berdesak-desakan di satu rumah.

Pak Lik, yang playboy itu, bertingkah bak raja minyak. Meski ia tak sekaya Pak Haji Imron. Dan rasa-rasanya, hidup berpoligami memang bukanlah barang baru. Ia tak mengenal kasta, agama dan latar belakang pendidikan. Siapa pun bisa melakukannya.Karena keadaan yang memaksa, ia pun hanya pasrah dikawini oleh paman yang ternyata hanya seorang sopir PH film.

Beberapa Kesimpulan:

(Keadaan) Dalam keluarga ini ingin mengungkapkan, bagaimana Siti yang berniat mencari kerja justru terpojokkan untuk menerima Pak Lik nya sendiri sebagai suami karena keadaan yang memaksa dia untuk menjadi istri ketiga Pak Lik nya.

(Lingkungan) Meskipun antar istri dapat hidup dengan damai dalam satu atap, namun dampak lain dapat timbul tanpa disengaja. Seperti kasus Siti dengan Dwi, karena terbiasa satu kamar dan sering berbagi kisah dan problematika yang mereka alami membuat ada perasaan lain dalam hati mereka.

(Sosial) Disini Nia juga ingi mengutarakan, bahwa poligami yang terjadi pada keluarga kedua tidak mengenal status sosial maupun harta, namun lebih cenderung kepada sifat Playboy seorang laki-laki sehingga ia memiliki 4 istri tanpa melihat bagaimana kondisi keluarga nantinya.

(Ekonomi dan Pendidikan) Selain daripada itu, poligami yang tanpa melihat faktor kemampuan ekonomi dapat mengorbankan masa depan anak-anak. Dapat dibayangkan, anak segudang tanpa adanya biaya penunjang pendidikan, dan keluarga seperti ini tidak hanya berdampak pada kehidupan mereka namun juga terhadap negara dengan pertambahan illaterate people.

Keluarga Ketiga

Ming seorang perempuan muda keturunan Tionghoa yang terkenal sebagai “kembang” di restoran bebek panggang tempatnya bekerja. Koh Abun, koki yang juga pemilik restoran, tak dapat menyembunyikan keinginannya untuk mengawini Ming. Bahkan istrinya yang galak, Cik Linda pun tak mampu manghalanginya. Ming menerima pinangan Koh Abun, yang sebenarnya lebih pantas menjadi bapaknya hanya karena ia bosan hidup susah.Gelar isteri muda yang disandangnya kini harus ia tutup rapat-rapat. Hadiah apartemen dan mobil menjadi fasilitasnya kini. Meskipun ia tahu resikonya jika isteri pertama (yang merupakan majikannya itu) suatu saat akan melihat sebuah kenyataan itu.

Betapa poligami pada akhirnya selalu menelan korban. Ada pihak yang merasa dirugikan. Bukan materi tapi perasaan. Itu pula lah yang dirasakan Ming. Karena dalam budaya etnisnya, tidak ada yang namanya cerai di dalam kamus pernikahan. Karena itu, ia diperistri sebagai istri keduanya secara diam-diam.
  
Ketika Firman, bekas pacar Ming yang telah menjadi sutradara film menawarkan peran utama di filmnya, Ming mulai membutuhkan kebebasan dan menyadari potensinya. Darah mudanya yang masih ingin kebebasan mulai muncul, namun bagaimanapun juga sebagai seorang istri muda, ia terlanjur memiliki perasaan sayang terhadap suaminya, yang akhirnya menghadapkan dia pada kenyataan yang berbenturan pada dua sisi : Ingin mengungkapkan bahwa dia telah bersuami atau bebas untuk berkarir seperti impiannya yang sempat ia pendam.

Beberapa Kesimpulan:

(Agama&Etnik) Berdasar agama katholik yang dianut oleh keluarga ketiga, yang mana tidak adanya kamus cerai dalam sebuah keluarga, membuat Ming terpaksa untuk menjadi istri simpanan dan tidak dapat menjadi istri Koh Abun secara resmi, korban perasaanpun berkecamuk dihati Ming yang akhirnya merasa sayang kepada suaminya yang lebih pantas menjadi ayahnya.

(Usia) Bagaimanapun juga, seorang Ming yang masih sangat muda memiliki rasa untuk ingin bebas, apalagi ketika peluang untuk dapat berkarir lebih mendatanginya, membuat dia harus berfikir ulang dengan keadaannya yang membuat dia harus berhadapan antara pilihan berkarir atau tetap menjadi istri simpanan dengan apartemen dan lainnya yang dijanjikan suaminya untuknya.

Lain daripada itu, konflik antara istri muda dengan istri pertama dan anak-anaknya juga tak dapat terhindarkan ketika istri pertama mengetahui keadaan sebenarnya, lagi-lagi istri muda harus menjadi korban dan harus mengalah karena status nya yang tak lebih kuat dari istri pertama apalagi didukung dengan anak-anak istri pertama yang juga jadi ikut membencinya.

Kesimpulan

Film ini mendapatkan penghargaan Golden Orchid Award sebagai Best Foreign Language Film dalam Festival Film Hawaii, Amerika Serikat

1. Sebuah gambaran Indonesia dalam konteks gender dikemas dalam satu bentuk film, Berbagai Suami. Ternyata, dari semua ragam etnis di Indonesia menganut poligami meskipun dengan alasan yang beragam (atau cari- cari alasan). Pesan- pesan yang ditujukan pada penganut poligami ini terasa menyindir. Yang jelas, film ini diharap membuka mata kaum laki- laki untuk berpikir dua kali (atau paling tidak, berpikir saja) untuk mengambil jalan poligami hanya untuk memuaskan ego masing- masing.

2. Ruang kehidupan Salma, Siti dan Ming berbeda dan mereka tak saling mengenal satu sama lain. Namun, mereka terkadang bertemu diruang publik Jakarta yang padat, tanpa menyadari bahwa mereka mengalami masalah kehidupan yang hampir sama. 

3. Mencoba membuka mata bagi para laki-laki, bahwa bersikap adil tidak mudah dan Poligami tak seindah dengan yang dibayangkan.

4. Salma, Siti dan Ming adalah gambaran sebuah realita. Wanita-wanita yang menjadi korban nafsu para pria. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Sekali lagi, masyarakat bahkan hanya menganggap itu "biasa". Wanita dengan seenaknya saja harus (BACA:Dipaksa) mengerti akan keadaan yang terjadi. Kenyataan bahwa pria itu tidak setia dan sellau ingin memuaskan hasratnya dibungkus indah dalam balutan alasan "menghindari zinah". Wanita hanya bisa mengelus dada dan pasrah...

5. Tak dapat dipungkiri, bahwa salah satu dampak negatif poligami adalah terhadap psychology anak, tanpa sengaja lingkungan keluarga yang terbagi-bagi dan problematika yang hadir dalam sebuah keluarga poligami dapat membuat anak terdidik dalam situasi-situasi yang membuat anak harus terbiasa melihat dan mendengar beberapa gesekan yang kadang atau bahkan sering terjadi. 

6. Kedudukan istri pertama tetap memiliki kedudukan lebih dibanding istri-istri muda di mata suami ataupun dimata masyarakat, sebagaimana kedudukan seorang permaisuri diantara selir-selir kerajaan.

 Sebenarnya yang perlu dipertanyakan adalah laki-laki itu sendiri dalam hal poligami, masalah poligami hanya dapat dikembalikan pada sifat laki-laki itu sendiri sebagai seorang suami, benarkah dia poligami berdasarkan agama, atau memang berdasar pada bakat laki-laki itu sendiri yang tidak cukup dengan istri satu dan mengatas namakan agama dan menghindari zina.

Namun film arahan Nia dinata ini semoga jadi wacana bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahasa-bahasa sindiran khasnya yang tertata dalam gambar-gambar indah penuh makna ini setidaknya akan membuat penonton terperangah. Mungkin kita akan tertawa pada beberapa adegan di film itu. Tetapi tawa kita itu adalah tawa pahit pada sebuah realitas gaya hidup sebagian pria di negeri ini. Sekarang saatnya kita memilih. Kalau bisa memilih untuk tidak berpoligami jangan ragu untuk menjatuhkan pilihan ini, karena pilihan untuk tidak berpoligami akan menghapus sakit hati dua makhluk bernama : wanita dan anak. Ini pesan yang saya tangkap dari"BERBAGI SUAMI".

Referensi

Al-Qur'an

Al-Hadits

Website

 
Comments
Add NewSearchRSS
Write comment
Name:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Security Image

Powered by JoomlaCommentCopyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.Homepage: http://cavo.co.nr/

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Foto Gallery
Artikel - Artikel
Wawancara
Renungan
Sastra