|
Manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki akal fikiran sehingga mampu memahami ayat-ayat QauliyahNya (al-Quran) dan ayat-ayat KauniyahNnya (alam semesta). Ketika Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya melalui diperjalankannya Rasulullah dengan waktu yang amat singkat (satu malam) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu dilanjutkan menuju ke Sidratul Muntaha, sepintas menurut hitungan akal manusia peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi.
Namun dibalik peristiwa tersebut ada rahasia Allah SWT yang Ia berikan secara tersurat maupun tersirat, jika manusia dapat mengkaji dan memahaminya. Diantara rahasia-rahasianya adalah : 1. Penghormatan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan tidak dialami oleh para nabi yang lain. Ini merupakan penghormatan Allah SWT kepada Rasululah Muhammad SAW sekaligus pertanda bahwa beliau mempunyai derajat yang jauh lebih tinggi dari para Nabi sebelumnya. Isra' Miraj ini juga tanda kesempurnaan kasih sayang Allah kepada manusia. Karenanya Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada seluruh manusia untuk sebagai rahmat semesta alam, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiya’ (21) : 107. “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. 2. Persiapan Kekuatan Ruhani dan Jasmani. Isra’ dan Mi’raj Nabi merupakan persiapan kekuatan ruhani dan jasmani Rasulullah SAW untuk mengemban risalah (tugas berat), cobaan berhijrah ke Madinah, serta beratnya tugas jihad fi sabilillah. Perjalanan Isra' dan mi'raj tersebut dimulai dari Masjid al-Haram dan berakhir di Masjid al-Aqsha. Perjalanan tersebut juga untuk mengenang turunnya wahyu pertama yang diterima Nabi Ibrahim As dan anaknya Ismail As dan turunnya wahyu kedua yang diterima oleh Nabi Musa As dan Nabi Isa As. Natap tilas tempat bersejarah tersebut merupakan diantara risalah yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. 3. Ujian Keimanan Ummat Nabi Muhammad SAW. Isra’ dan Mi’raj Nabi merupakan ujian keimanan, untuk mengetahui siapa di antara para sahabat itu yang imannya benar-benar dan siapa yang imannya itu palsu. Sebagaimana kita tahu bahwa setelah selesai diisra’kan dan dimi’rajkan, pagi harinya Rasulullah mengumpulkan umat dan kaumnya untuk diberitahukan tentang perjalanannya Isra’ dan Mi’raj itu yang ditempuh hanya semalam itu. Peristiwa aneh itu tentu tidak masuk di akal mereka, karena itu banyak di antara mereka yang mendustakan Nabi. Namun sayidina Abu Bakar 100 % mempercayainya, dia mengatakan, “Hai Muhammad, jika peristiwa tersebut lebih dari itu saya percaya”. Sehingga Abu Bakar diberi gelar al-Shiddiq (yang sangat benar). Dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, Rasulullah akhirnya mengetahui siapa yang imannya kuat dan patut diajak berjuang dan hijrah ke Madinah untuk menyebarkan ajaran Islam kepada umat manusia. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ (17) : 60.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”. Demikianlah Allah menguji umat manusia dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj untuk melihat kebenaran keimanan mereka. Banyak dari mereka yang tidak percaya akan peristiwa itu, karena tidak masuk akal pada waktu itu. Seandainya Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada masa sekarang, pastilah semua orang percaya, karena sekarang sudah ada kapal terbang yang mempunyai kecepatan tinggi, bisa mempercepat perjalanan, seperti halnya Buraq yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam Isra’ dan Mi’rajnya. Namun itu semua kembali kepada keimanan ummat Nabi Muhammad SAW pada masa itu. 4. Tasliyah (Hiburan) Isra’ dan Mi’raj ini merupakan anugerah khusus Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menghibur beliau yang sedang dalam keadaan duka dan sedih yang amat sangat dalam. Karena pada tahun yang sama harus ditinggalkan oleh isteri tercintanya Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Dua orang tersebut merupakan motivator dan pelindung beliau dalam menyebarkan misi dakwah Islam kepada umat manusia. Jika diumpakan ada seorang wanita ditinggalkan suaminya dan harus menanggung kesedihan yang amat dalam, maka untuk mengurangi kesedihannya itu, orang tua atau sahabat dekatnya perlu mengajaknya berjalan-jalan di tempat yang bisa menghilangkan kesedihan, dengan cara melihat pemandangan yang indah-indah. Demikianlah Rasulullah SAW yang sedang dalam kesedihan itu diperjalankan oleh Allah SWT dengan Isra dan Mi’raj dan diperlihatkan macam-macam pemandangan yang menyenangkan, sehingga dapat mengurangi kesedihannya itu. Dengan cara diperjalankannya tersebut, maka timbullah keyakinan dalam diri Nabi bahwa Tuhan yang mengisra’ dan mi’rajkan itu pasti berkuasa penuh untuk menolongnya dalam segala hal, khususnya menghadapi musuh-musuhnya dalam berjuang menyampaikan ajaran Islam. 5. Keistimewaan Ibadah Shalat. Bahwa pada malam Isra’ dan Mi’raj, Allah SWT mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam kepada Nabi dan umatnya. Shalat sebagai kewajiban yang berwaktu-waktu tersebut dapat menjadi media berdialog dengan Tuhan dan melaksanakan penghambaan kepada-Nya. Mengapa untuk menerima perintah shalat itu Nabi harus datang menghadap langsung kepada Tuhan?, tidak seperti halnya perintah zakat, puasa dan haji. Hal ini menunjukkan bahwa shalat punya kedudukan yang tinggi, karena perintah shalat tersebut diterima Nabi dari Allah SWT secara langsung dan tidak lewat perantara. Hendaklah kita ingat bahwa Rasulullah SAW telah memperoleh kebanggaan dari peristiwa Isra' Mi'raj. Karena Isra' Miraj ini seakan menjadi simbol kerinduan seorang hamba untuk terus dapat berdialog dengan Tuhannya. Sehingga Nabi SAW sendiri merasa tidak memperoleh kelezatan kecuali pada saat 'berdialog' dengan Allah SWT. Rasulullah SAW mengatakan: “Dan hiburanku dijadikan pada shalat”. Dari sini kita tahu bahwa shalat itu merupakan pembersihan hati yang akan membawa seorang hamba kepada nuansa yang menghibur. Isra’ Mi’raj ini juga bisa menjadi simbol perjalanan rohani kepada Tuhan. Karena itu siapa ingin "diisra’ dan mi’rajkan" Tuhannya, maka hendaklah ia memelihara shalat dan selalu munajat kepada Tuhannya. Dan jelaslah bahwa antara Isra’ Mi’raj dan Shalat ada kaitan yang sangat erat, karena shalat dihasilkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Dari uraian menangkap rahasia peristiwa Isra' Mi'raj ini, manusia seakan diajak oleh Allah SWT untuk selalu mengkaji dan memahami setiap peristiwa yang Allah SWT gambarkan dalam ayat-ayat Qauliyah maupun KauniyahNya. *)Kandidat Mahasiswa Program S-2 Islamic Studies di IIU Islamabad Pakistan |